Cara Deketin Cewek

bagaimana mencari teman baru, dan meningkatkan hubungan pertemanan dengan memahami proses komunikasi, verbal maupun non-verbal. Contoh percakapannya dituliskan dalam bentuk ilustrasi cerita fiksi.

Tahapan komunikasi, dimulai dengan basa-basi. Sifatnya berupa percakapan umum tentang keseharian. Percakapan dilanjutkan pada tahapan penyampaian fakta dengan memberikan informasi pribadi. Lebih jauh, percakapan akan masuk pada tahapan intelektual, yang masuk pada penilaian dengan bersedia mengkepresikan pendapat dan pikiran mereka. Bila pembicaraan sudah sampai pada penyampaian isi hatiatau curhat, maka kepercayaan mulai timbul di antara mereka yang berkomunikasi. Dan terakhir, kemauan untuk saling berbagai sebagai tahapan terakhir.

Image

Tentu saja, setiap orang memiliki kemampuan komunikasi antar personal yang berbeda, sehingga berapa lama waktu dari basa-basi hingga sampai pada tahapan saling berbagi. Ada banyak orang, terutama yang bekerja sebagai sales & marketer, terlatih untuk bisa membuat orang nyaman ‘didekati’ kurang dari 5 menit. Dalam waktu singkat, orang yang baru dikenal, seolah-olah sudah kenal akrab cukup lama.

Secara ringkas, tahapan PDKT tersebut dimulai dari awalnya basa-basi, lalu saling tukar informasi, lalu masing-masing terbuka sampaikan ide dan pikiran, lalu berbagi perasaan isi hati, lalu saling berbagi banyak hal sebagai seorang teman atau sahabat.

***

Contoh Dialog (Fiksi)

Setelah sampai di terminal bus terbesar di Jawa Timur, aku segera mencari bus PATAS-AC jurusan Malang. Saat masuk lewat pintu depan, dapat aku lihat beberapa bangku kosong yang tersebar di beberapa bagian. Dengan cepat aku menemukan sebuah bangku kosong di sebelah seorang gadis manis berambut hitam sebahu yang duduk di dekat jendela. Dia sedang asyik dengan handphonen-nya.

“Kosong?” Tanyaku kepada si gadis sambil menyiapkan senyum terbaik, sesaat telah berdiri di sampingnya.

“Oh ya, silahkan,” jawabnya sambil membalas senyumnya.

Sepintas aku langsung memberikan penilaian positif. Si gadis pasti seorang yang ramah dan cukup nyaman untuk diajak berbincang. Walaupun demikian, setelah duduk aku tidak langsung memutuskan untuk memancing pembicaraan. Aku biarkan dahulu dia merasa nyaman duduk di sampingku,  dengan tidak membuat terlalu banyak gerakan yang membuatnya tidak nyaman. Bahkan saat tadi dudukpun, aku mencoba meletakkan diri sehalus dan se-elegan mungkin. Karena aku sadar pentingnya ‘hallo effect’ saat pertama kali bertemu dengan seseorang. Aku harus mengirimkan sinyal positif, kalau aku bukan ‘ancaman’ bagi dia.

Perjalanan ke Malang akan ditempuh dalam waktu 2-3 jam. Aku mengeluarkan tablet dari tas untuk memainkan game Angry Bird, sambil menunggu bus diberangkatkan. Benar saja, tidak sampai 5 menit, bus mulai bergerak meninggalkan terminal, melewati Bundaran Waru dan masuk ke arah pintu tol Surabaya-Sidoarjo.

“Mbak turun mana?” Tanyaku memulai pembicaraan sambil menutup tablet pc dan menyimpannya di tas kembali.

Si gadis menoleh dan menjawab, “Saya? Oh turun terminal Arjosari.”

Sebenarnya aku menunggu dia bertanya balik, namun beberapa detik kutunggu, pertanyaan tersebut tidak juga dilontarkannya.

“Memang ke Malang, kuliah atau jalan-jalan nih?” Tanyaku memulai kembali untuk memancing pembicaraan.

“Pulang kampung, Mas.”

“Oalah… kera ngalam toh… Pantesan…” Aku sengaja menggunakan intonasi terkejut yang sedikit lebay.

“Pantesan kenapa?” Tanyanya dengan sedikit senyuman menyungging. Kali ini dia sedikit memiringkan badannya menghadap ke arahku, pertanda dia mulai memberikan perhatian dan bisa terus diajak berbincang.

“Hehehe… iya tadi pas duduk, dari baunya saja sudah ketahuan.”

“Memang baunya seperti apa? Ah Mas ini bisa saja,” ujarnya sambil tersenyum lebar.  Aku tidak melanjutkan menjawab pertanyaannya, agar jangan sampai bahan bercandaan tersebut menjadi basi.

“Di Surabaya kuliah atau kerja nih?” Tanyaku  kembali.

“Kuliah,” jawabnya singkat. Aku merasakan jawabannya singkatnya sebagai sebuah keengganan untuk lebih membuka diri dan berbagi informasi.

“Kuliah jurusan dan di mana? Jarang saya ketemu kera ngalam kuliah di Surabaya.” Kali ini  aku bertanya dengan sedikit memajukan badan kearahnya untuk mengirimkan pesan bahwa aku begitu serius meminta jawabannya.

“Eee…. kebetulan kuliah di kedokteran Unair,” kali ini dia menjawab dengan nada ragu.

“Wah hebat sekali. Hanya orang pintar dan cerdas yang bisa diterima kuliah di kedokteran nih,” seruku.

“Eh enggak juga,” jawabnya dengan wajah bersemu merah. Aku sangat paham pujianku pasti sudah masuk bagai virus dan mengusik perhatiannya lebih dalam lagi. Sedikit pujian tidak menyakitkan dan pujian adalah makanan ego.

“Saya juga dulu mau kuliah di kedokteran gigi hewan umum, tapi ghak diterima.” Aku mengucapkannya dengan nada serius, namun dengan senyum di wajah.

“Hahaha… mana ada kedokterang gigi hewan umum toh Mas…” Kali ini dia tertawa lebih lepas dan dengan gesture yang lebih bersahabat. Tangannya hampir saja menepuk pundakku saat mendengar pancingan humorku.

“Lah memangnya ghak boleh ya jadi dokter gigi khusus hewan?” Kali ini aku mengambil sikap sok lugu untuk melihat seberapa dia mau terlibat dalam pembicaraan dan berbagi informasi.

“Ghak ada Mas. Kedokteran hewan sendiri, dan kedokteran gigi juga sendiri” Kali ini dia menatapku dengan wajah gemes.

“Terus kalau ada kucing sakit gigi karena kebanyakan makan permen, dia harus pergi ke mana?”

“Lah salah yang punya kucing. Lagian sejak kapan kucing makan permen?” Tanyanya lagi.

Berikutnya, pembicaraan aku dan dia mulai intens diselingi dengan humor. Memang cowok humoris paling gampang mencari teman, karena mudah menjadi akrab dengan orang lain. Lebih dari setengah jam kita membahas berbagai hal. Aku mencoba memancing beberapa pembicaraan, mulai dari musik, film, hingga kuliner. Ternyata dia suka dengan film bergenre Sci-fiction.

Sampai akhirnya, “Eh dari tadi kita ngobrol tapi belum tahu nama masing-masing. Saya Aditya.”  Aku menyodorkan tangan untuk bersalaman.

“Sisca,” Sambil menerima uluran tanganku.

Dari caranya bersalaman dan tingkat kekerasan genggamannya, aku tahu dia pribadi yang hangat dan menyenangkan. Terbukti, dalam waktu kurang dari 1 jam, aku sudah cukup bisa berkenalan, berbincang, bercanda dengan akrab.

“Eh kalau saya minta nomer HPnya, kira-kira ada yang marah enggak ya?” Tanyaku sambil mengamati perubahan ekspresi wajahnya.

“Emang siapa yang marah?” Dia balik bertanya.

“Lah siapa tahu pacarmu marah kalau tahu orang yang menelpon kamu, ternyata lebih ganteng dari dia,” godaku.

“Ye… belum punya pacar lagi. Ghak boleh sama Mama dan Papa kalau belum lulus kuliah.”

“Nah saya setuju dengan pendapat Mama dan Papamu tuh. Toh jadi jones juga bukan aib.”

“Apa tuh Jones?”

“Jomblo ngenes, yang kalau setiap malam minggu berharap hujan supaya oranng yang pacaran di luar sana menjadi terganggu.”

“Hahaha….. Iya jones…. Ngenes….” Sisca tertawa sampai memperlihatkan deretan giginya yang putih dan tertata rapi.

Berikutnya kami saling bertukar nomer HP, agar bisa terus ‘keep in touch‘ alias nyambung terus. Alasan lainnya sih agar aku bisa menghubungi Sisca saat di Malang nanti.

Pembicaraan berlanjut mulai dari materi kuliah hingga Sisca curhat tentang orang tuanya. Pada tahapan ini aku menempatkan posisi sebagai pendengar yang baik. Itu juga berarti Sisca sudah mulai menaruh kepercayaan untuk berbagi wilayah privasi dengan menceritakan kondisi keluarganya. Tahapan hubungan yang jauh lebih tinggi lagi dari awal kenal, teman dan berikutnya bisa menjadi sahabat.

***

Dialog di atas dimulai dengan materi pembicaraan yang bersifat umum. Humor digunakan untuk bisa lebih membuat lawan bicara kita menjadi nyaman. Itu pentingnya mengasah ‘Sense of humor’ agar dialog menjadi lebih hidup dan tidak monoton. Dialog menjadi berkembang juga tergantung dari kemampuan berkomunkasi dan seberapa luas pengetahuan kita.

Interpersonal dan Communication Skills memang diperlukan oleh setiap orang untuk bisa membuat, membangun dan mempertahankan relasi sosial. Oleh karena itu, selain komunikasi verbal, penting juga untuk menguasai komunikasi non-verbal.

Bahasan berikutnya saya akan coba mengulas tentang Body Language untuk bisa mengetahui apakah seseorang tertarik dan memperhatikan kita atau tidak. Pemahaman akan zone dan jarak, gesture dan beberapa komponen komunikasi non-verbal lainnya, akan memudahkan kita untuk memahami pesan yang tidak terucap, namun ada dalam pikiran seseorang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s